Breaking News
17:28
Advertisement

Dari Belanda ke Punggelan: Memburu Masalah Hemofilia yang Tak Terlihat di Rumah Sakit

10 08 03.36.15
Bagikan
Lihat Tersimpan

BERSWARANEWS.id BANJARNEGARA – Setahun tanpa bisa berjalan bukan sekadar angka bagi seorang pasien Hemofilia B di Kecamatan Punggelan, Banjarnegara. Itu adalah potret nyata ketika penyakit dan komplikasinya mengubah hampir seluruh ruang gerak kehidupan.

Di titik itulah pelayanan kesehatan dituntut keluar dari tembok rumah sakit.

Tim Hemofilia RSUD Banyumas bersama mitra twinning dari Van Creveldkliniek, Belanda, mendatangi langsung rumah pasien tersebut, Rabu (7/10/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari Twinning Program yang didukung World Federation of Hemophilia (WFH).

Bukan sekadar kunjungan seremonial. Tim datang untuk membedah persoalan pasien dari dekat—mulai kondisi kesehatan, kebutuhan rehabilitasi dan fisioterapi, hingga tantangan yang dihadapi pasien dan keluarga dalam menjalani pengobatan.

Pasien diketahui mengalami paraplegia dan tidak dapat berjalan selama kurang lebih satu tahun. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama tim untuk menentukan kebutuhan rehabilitasi yang lebih sesuai dan memungkinkan pasien mendapatkan kembali sebanyak mungkin fungsi serta kemandiriannya.

WFH diwakili Mrs. Merrel Timmer dan Dr. Lize Van Vulpen. Keduanya didampingi dokter Hemato Onkologi Anak RSUD Banyumas, dr. Fresti Oktanindi, Sp.A(K), serta Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan dan Kebidanan, Pujo Rohadi, S.Kep.Ns.

Namun misi tim tidak berhenti pada satu pasien.

Anggota keluarga juga menjalani skrining untuk mencari kemungkinan adanya gangguan perdarahan atau hemofilia yang selama ini belum terdiagnosis. Langkah ini penting karena semakin cepat kasus ditemukan, semakin terbuka peluang pasien memperoleh tata laksana dan pemantauan yang tepat.

Rumah pasien pun berubah menjadi ruang asesmen. Di sana, tenaga kesehatan dapat melihat langsung kondisi tempat tinggal, hambatan mobilitas, dukungan keluarga, serta persoalan yang mungkin tidak seluruhnya terlihat ketika pasien datang ke rumah sakit.

Pendekatan semacam ini menempatkan pasien bukan sekadar sebagai penerima terapi, melainkan sebagai pusat dari keseluruhan layanan.

Program twinning dengan jejaring internasional menjadi ruang untuk membawa pengalaman dan praktik terbaik ke level pelayanan yang paling dekat dengan pasien. Pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi diterjemahkan menjadi langkah konkret untuk menjawab kebutuhan di lapangan.

Dari Punggelan, pesan pelayanan hemofilia menjadi tegas: pasien tidak boleh ditinggalkan sendirian menghadapi penyakitnya.

RSUD Banyumas kini memperkuat model layanan yang tidak hanya mengejar pengobatan, tetapi juga fungsi, kemandirian, kualitas hidup, serta ketahanan keluarga—dengan jejaring nasional dan internasional sebagai bagian dari upaya memperluas kualitas pelayanan. (Widhi)

Penulis

Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *