BERSWARANEWS.id BANYUMAS – Golkar Banyumas tak menunggu 2029 untuk bergerak. Mesin politik mulai dipanaskan dari Dapil 2 melalui konsolidasi empat kecamatan: Baturraden, Sumbang, Kembaran, dan Sokaraja. Targetnya jelas, struktur harus solid, basis pemilih harus diperkuat, dan suara di TPS harus dikawal.
Baturraden, Sumbang, Kembaran, dan Sokaraja menjadi wilayah awal konsolidasi. Empat ketua Pimpinan Kecamatan (PK) dikukuhkan Ketua DPD Partai Golkar Banyumas Arief Dwi Kusumawardhana, S.E., M.A.P.: Warjono, SH untuk Baturraden, Agus Subejo, S.Pd. untuk Sumbang, Agus Riyanto untuk Kembaran, dan Suratman, S.Kom., M.H. untuk Sokaraja.
Pengukuhan itu sekaligus menandai pergeseran kerja politik Golkar dari penataan struktur menuju penguatan jaringan di lapangan.
Ketua panitia, Teguh Widiantono, menegaskan Muscam diarahkan untuk memperkuat soliditas kader sekaligus mendorong peningkatan perolehan kursi Golkar di Dapil 2.
“Konsolidasi ini diikuti pengurus dan kader dari empat kecamatan. Harapannya, kegiatan ini membangun semangat bersama untuk meningkatkan perolehan kursi Partai Golkar di Dapil 2,” katanya.

Konsolidasi Bukan Lagi Seremonial
Ketua DPD Partai Golkar Banyumas Arief Dwi Kusumawardhana, S.E., M.A.P., menempatkan konsolidasi sebagai pekerjaan utama partai.
Menurut dia, partai tidak bisa bertahan hanya dengan struktur formal. Perubahan zaman dan karakter pemilih menuntut organisasi politik terus menyesuaikan diri agar tetap memiliki basis dukungan.
“Konsolidasi adalah keharusan dan kewajiban bagi partai politik. Partai harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap dipercaya masyarakat,” ujar Arief.
Pesan tersebut memperlihatkan arah kerja Golkar Banyumas: memperkuat organisasi dari kabupaten, kecamatan, desa hingga TPS.
Bagi partai politik, struktur yang lengkap belum otomatis menjadi kekuatan elektoral. Struktur baru bernilai ketika mampu menggerakkan kader, membaca perubahan pemilih, dan menjaga hubungan politik dengan masyarakat.
Basis Tradisional Mulai Berubah
Dewan Penasehat DPD Partai Golkar Banyumas H. Supangkat, S.H., M.H., mengingatkan perubahan basis pemilih tidak bisa diabaikan.
Menurut dia, karakter pemilih terus bergeser. Basis tradisional yang selama ini menjadi salah satu kekuatan Golkar tidak bisa hanya dipertahankan dengan pola kerja lama.
Karena itu, konsolidasi harus diarahkan pada perluasan basis, terutama pemilih muda dan pemilih yang semakin kritis terhadap partai politik.
“Kunci pemenangan pemilu ada pada konsolidasi dan keberhasilan di TPS. Basis pemilih tradisional terus berubah, sehingga kita harus merangkul pemilih muda dan pemilih cerdas,” kata Supangkat.
Pesan tersebut menempatkan TPS sebagai titik akhir sekaligus ukuran keberhasilan konsolidasi. Sebab, kekuatan partai pada akhirnya diuji bukan di ruang rapat, melainkan ketika suara benar-benar dihitung.

Dapil 2 Jadi Titik Uji
Empat kecamatan yang masuk Dapil 2 memiliki karakter pemilih dan dinamika politik yang berbeda. Karena itu, konsolidasi tidak cukup berhenti pada pengukuhan ketua PK.
Setelah Muscam, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai: memperkuat jaringan desa, mengonsolidasikan kader, memperbarui pemetaan pemilih, dan memastikan struktur organisasi hidup sampai tingkat TPS.
Arief sebelumnya juga menekankan pentingnya konsolidasi organisasi sebagai bagian dari persiapan menghadapi kontestasi politik mendatang. Agenda penguatan jaringan saksi melalui Badan Saksi Nasional Partai Golkar (BSNPG) di Banyumas pada Juli 2026 menjadi bagian dari rangkaian kerja tersebut.
Kini, konsolidasi diturunkan lebih dalam melalui empat kecamatan di Dapil 2.
Target Kursi dan Ujian Mesin Partai
Golkar Banyumas secara terbuka membawa target peningkatan perolehan kursi. Ketua panitia menyebut harapan agar perolehan kursi di Dapil 2 dapat meningkat.
Target tersebut menjadi tantangan langsung bagi struktur baru.
Sebab, target politik tidak ditentukan oleh jumlah ketua yang dikukuhkan, banyaknya forum konsolidasi, atau rapinya administrasi organisasi. Target baru memiliki arti ketika diterjemahkan menjadi kerja politik yang terukur di tingkat akar rumput.

Muscam XI Dapil 2 dengan demikian menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia adalah salah satu tanda bahwa Golkar Banyumas mulai menggeser fokus dari penataan internal menuju persiapan mesin politik menghadapi Pemilu 2029.
Empat ketua PK telah dikukuhkan. Struktur sudah dirapikan. Namun, konsolidasi baru akan benar-benar berarti ketika mesin partai bergerak di lapangan. Pada akhirnya, kekuatan Golkar Banyumas tidak akan diukur dari meriahnya Muscam, melainkan dari seberapa solid kader bekerja, seberapa luas basis yang dibangun, dan seberapa banyak suara yang benar-benar terkunci di TPS pada Pemilu 2029. (Widhi)





Tinggalkan Balasan