Breaking News
18:44
Advertisement

Dari Cover Boy ke Kapolri: Wajah yang Disimpan Waktu

10 02 05.11.13
Bagikan
Lihat Tersimpan

BERSWARANEWS.id – Ada yang lucu dari sebuah foto lama: fotonya tidak berubah, tetapi maknanya bisa berubah total.

Pada 1988, Suyudi Ario Seto hanyalah remaja 16 tahun, siswa SMPN 70 Jakarta, peserta nomor 22 Cover Boy ’88 dalam Majalah Mode. Tingginya 171 sentimeter, beratnya 52 kilogram. Dari 8.345 pelamar, ia terpilih menjadi satu dari 60 semifinalis.

Tidak menang pun tidak menjadi soal. Sebab hampir empat dekade kemudian, foto hitam-putih itu justru memperoleh nilai sejarah yang tak pernah dibayangkan siapa pun ketika dicetak.

Hari ini, pemilik wajah tersebut dikenal sebagai Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Kapolri yang dilantik pada 1 Oktober 2026.

Waktu mengubah status sebuah foto.

Dulu ia sekadar foto seorang anak muda yang ingin tampil. Kini ia menjadi arsip tentang seorang pejabat tinggi negara sebelum jabatan itu bahkan terbayangkan.

Di situlah menariknya kisah Cover Boy.

Ketika Majalah Menjadi Algoritma

Bagi generasi 1980-an, majalah remaja bukan sekadar bacaan. Ia adalah panggung.

Tidak ada Instagram, TikTok, kamera ponsel, follower, like, atau algoritma. Jika ingin dikenal, seorang remaja harus mengirim foto, menunggu, lalu berharap redaksi memilihnya.

Dalam Cover Boy ’88, 8.345 remaja mencoba mengetuk pintu itu. Hanya 60 yang masuk sebagai semifinalis.

Hari ini pintunya hampir tidak ada.

Seorang remaja dapat membuat akun sendiri, memproduksi konten sendiri, membangun audiens sendiri. Dulu redaktur menentukan siapa yang terlihat. Sekarang algoritma dan respons pengguna ikut menentukan siapa yang mendapatkan perhatian.

Dulu foto menunggu majalah.

Sekarang majalah, media, bahkan industri hiburan sering kali mengejar foto dan video yang sudah lebih dulu mendapatkan perhatian publik.

Teknologinya berubah. Tetapi kebutuhan manusianya tetap sama: ingin dilihat.

Yang Hilang Bukan Panggung, Melainkan Penantian

Generasi lama mengenal sensasi menunggu.

Menunggu majalah terbit. Menunggu surat pembaca dimuat. Menunggu hasil seleksi. Menunggu album baru. Menunggu film masuk bioskop.

Kini hampir semuanya datang seketika.

Mungkin itu sebabnya arsip majalah terasa semakin memikat. Kertas menyimpan sesuatu yang tidak bisa disimpan algoritma dengan cara yang sama: jejak sebuah zaman.

Satu halaman Mode dapat menyimpan gaya rambut, pakaian, nama sekolah, bahasa remaja, iklan, cita-cita, dan wajah-wajah anak muda yang masa depannya belum diketahui.

Majalah tua akhirnya bukan sekadar benda koleksi. Ia menjadi kapsul waktu.

Foto yang Tidak Tahu Masa Depan

Ada ironi paling menarik dalam foto Suyudi.

Pada 1988, orang melihat seorang remaja bernama Suyudi dan tidak tahu siapa dia kelak.

Kini kita melihat foto yang sama dengan pengetahuan tentang masa depannya.

Dulu mungkin muncul pertanyaan, “Siapa anak ini?”

Sekarang jawabannya: “Itu Kapolri.”

Padahal fotonya sama.

Yang berubah adalah waktu dan pengetahuan kita.

Itulah keajaiban arsip. Ia tidak pernah tahu masa depan, tetapi masa depan suatu hari datang dan memberinya makna baru.

Suyudi pada foto itu belum seorang jenderal. Belum Kapolda. Belum Kepala BNN. Belum Kapolri. Ia hanya seorang anak SMP yang mencoba sebuah kesempatan.

Dan mungkin justru itu yang membuat foto tersebut terasa penting.

Di balik seragam jenderal dan pangkat yang hari ini melekat pada namanya, ada seorang remaja yang pernah berdiri di halaman majalah bersama puluhan anak muda lain yang sama-sama belum mengetahui ke mana hidup akan membawa mereka.

Masa Depan Memang Tidak Pernah Terlihat

Kisah Suyudi pada akhirnya bukan sekadar nostalgia Cover Boy.

Ia adalah pengingat bahwa masa depan tidak pernah tercetak pada wajah seseorang ketika ia masih muda.

Dari 8.345 pelamar Cover Boy ’88, kehidupan membawa masing-masing orang ke jalan berbeda. Ada yang masuk dunia hiburan, menjadi profesional, menjalani kehidupan biasa, dan ada yang puluhan tahun kemudian berdiri di puncak institusi kepolisian.

Tidak ada yang bisa membacanya dari sebuah foto.

Karena foto hanya merekam satu detik.

Waktu yang menulis sisanya.

Dan mungkin itulah alasan sebuah majalah tua kadang jauh lebih berharga daripada yang kita kira. Ia bukan hanya menyimpan wajah masa lalu. Ia menyimpan masa ketika masa depan belum diketahui siapa pun.

Termasuk oleh seorang remaja bernama Suyudi Ario Seto. (Redaksi)

—

Disarikan dari cerpen karya Satrio Arismunandar dengan judul: “Dari Cover Boy ke Kapolri: Ketika Wajah Remaja Pernah Menjadi Pintu Menuju Masa Depan”

Satrio Arismunandar
Penulis cerpen remaja era 1980-an di Majalah Anita Cemerlang, Gadis, dan Halo

Penulis

Widhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *