Breaking News
06:06
Advertisement

Kemarau Panjang Keringkan Srowot, PKK-Baznas Kirim 10.000 Liter Air

10 01 07.39.12
Aksi kemanusiaan itu digelar TP PKK Kabupaten Banyumas bersama Baznas Kabupaten Banyumas. (istimewa)
Bagikan
Lihat Tersimpan

BERSWARANEWS.ID BANYUMAS – Kekeringan membuat air bersih berubah menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda bagi warga Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Banyumas. Di tengah sumber air yang mulai mengering, dua truk tangki datang membawa 10.000 liter air melalui aksi sosial “Sedekah Air Bersih”, Kamis (1/10/2026).

Aksi kemanusiaan itu digelar TP PKK Kabupaten Banyumas bersama Baznas Kabupaten Banyumas. Ketua TP PKK Banyumas Ny. Eni Sadewo dan Ketua Baznas Banyumas Khasanatul Mufidah memimpin langsung penyaluran air kepada warga.

Sejak pagi, warga telah menunggu dengan ember, jeriken, dan tong yang disusun untuk menampung air. Bagi mereka, setiap liter air yang mengalir menjadi penopang kebutuhan sehari-hari di tengah kemarau panjang.

Suasana penyaluran berlangsung hangat. Eni Sadewo bersama Khasanatul Mufidah bahkan ikut memegang selang dan mengisikan air ke wadah milik warga.

“Aksi ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari PKK dan Baznas Banyumas. Kami menyadari bahwa Desa Srowot menjadi salah satu titik yang terdampak cukup signifikan akibat kekeringan di wilayah Kalibagor,” kata Eni.

Menurut dia, bantuan 10.000 liter tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan harian warga. PKK bersama instansi terkait juga akan memantau kondisi di lapangan untuk menentukan kebutuhan bantuan berikutnya jika kekeringan berlanjut.

Khasanatul mengatakan air bersih tersebut disalurkan dari pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) masyarakat Banyumas.

“Alhamdulillah, amanah yang dipercayakan masyarakat dapat kami wujudkan kembali dalam aksi nyata yang berdampak langsung,” ujarnya.

Bagi warga Srowot, bantuan itu bukan sekadar dua tangki air. Di tengah sumber-sumber air yang mengering, pasokan tersebut menjadi penyangga kebutuhan rumah tangga sekaligus pengingat bahwa mereka tidak menghadapi krisis air sendirian.

Namun, bantuan tangki hanya menyelesaikan kebutuhan dalam jangka pendek. Warga berharap ada solusi yang lebih permanen, antara lain pembangunan sumur dalam dan perluasan jaringan pipanisasi, sehingga krisis air tidak terus berulang setiap kali kemarau panjang melanda.

Di Srowot, 10.000 liter air hari itu mungkin segera habis. Tetapi kepedulian yang mengantarnya diharapkan menjadi awal dari upaya lebih panjang untuk memastikan air bersih tetap mengalir ketika kemarau kembali datang. (Widhi)

Penulis

Widhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *