BERSWARANEWS.id BANYUMAS – Risiko kerja tidak mengenal status pekerjaan. Karena itu, perlindungan pekerja perlu disiapkan sebelum kecelakaan, kematian, atau risiko sosial lainnya datang. Pesan tersebut disampaikan BPJS Ketenagakerjaan Cabang Purwokerto dalam Seminar Pencegahan Penyakit Masyarakat (PEKAT) LKKNU-LTMNU PCNU Banyumas di Aula PCNU Banyumas, Sabtu (3/10/2026).
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Purwokerto, Vinca Meitasari, S.E., M.M., didampingi jajarannya, memberikan edukasi mengenai pentingnya kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, terutama bagi pekerja sektor informal atau Bukan Penerima Upah (BPU).
Dalam sosialisasi tersebut, peserta diperkenalkan dengan tiga program perlindungan, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT).
Untuk perlindungan dasar, iuran yang disampaikan sebesar Rp16.800 per bulan, dengan pilihan tambahan JHT sebesar Rp20.000, sesuai skema program yang dijelaskan dalam kegiatan.
Vinca menegaskan, kepesertaan bukan sekadar kewajiban membayar iuran. Peserta juga harus memastikan data kepesertaannya benar agar hak atas manfaat perlindungan dapat diterima sesuai program yang diikuti.
“Hari apes tidak ada di kalender. Kalau terjadi sesuatu, kita punya sesuatu yang bisa ditinggalkan untuk istri dan anak.”
Berita terkait:
LKKNU–LTMNU Banyumas Dorong Masjid Jadi Garda Depan Pencegahan Penyakit Masyarakat
Menurut Vinca, edukasi mengenai jaminan sosial perlu diperluas melalui jaringan organisasi keagamaan. Ia berharap LKKNU, LTMNU, imam masjid, dan khatib turut menyampaikan pentingnya perlindungan pekerja kepada masyarakat di seluruh Banyumas.
Ketua PCNU Banyumas, Drs. H. Imam Hidayat, M.Pd.I., menegaskan seminar tersebut harus menghasilkan gerakan nyata, bukan berhenti pada forum diskusi.
“Seminar ini tidak boleh berhenti sebagai seminar. Harus ada action.”
Seminar juga menghadirkan Kompol Sutrisno, S.H., M.H., yang mengingatkan peserta mengenai bahaya judi online dan berbagai perilaku berisiko terhadap generasi muda. Sementara Drs. Suwondo, M.M., memberikan edukasi mengenai HIV/AIDS.
Kolaborasi sosial turut diperkuat melalui keterlibatan BAZNAS Banyumas, sedangkan kegiatan dirangkai dengan peluncuran modul edukasi HIV/AIDS dan buku Merawat Fitrah, Menyelamatkan Generasi.
Sebanyak 102 peserta mengikuti kegiatan tersebut, melampaui target awal 80 peserta.
Pesan yang mengemuka dari forum itu bukan semata soal besaran iuran, melainkan kesadaran bahwa pekerja informal pun menghadapi risiko yang sama. Bekerja adalah ikhtiar, sementara memastikan diri dan keluarga terlindungi merupakan bagian dari tanggung jawab. (Widhi/Djarmanto)





Tinggalkan Balasan