Breaking News
14:01
Advertisement

Salat Istisqa di Tengah Kemarau, SMA Negeri Banyumas Tanamkan Ekoteologi kepada Siswa

10 02 11.07.19
Salat Istisqa di Tengah Kemarau, SMA Negeri Banyumas Tanamkan Ekoteologi kepada Siswa. (istimewa)
Bagikan
Lihat Tersimpan

BERSWARANEWS.id BANYUMAS – Kemarau panjang mulai mengetuk kehidupan warga SMA Negeri Banyumas. Ketika air kian terbatas, debu mengganggu kesehatan, dan tanaman sekolah terancam kekeringan, doa pun dipanjatkan. Ratusan warga sekolah menggelar Salat Istisqa di lapangan sekolah, Jumat (2/10/2026).

Salat meminta hujan itu diikuti siswa, guru, tenaga kependidikan, warga sekitar, serta jajaran KUA Kecamatan Banyumas yang dipimpin Kepala KUA Nastholih. Hadir pula Pengawas PAI, Siti Nur Hidayati atau Inung.

Sebelum pelaksanaan, Nastholih memberikan penjelasan mengenai tata cara Salat Istisqa. Eko Widodo bertindak sebagai imam, sementara Siswandi menyampaikan khutbah.

Bagi SMA Negeri Banyumas, kegiatan tersebut menjadi Salat Istisqa pertama pada musim kemarau tahun ini di lingkungan satuan pendidikan Kabupaten Banyumas.

Namun, pesan yang dibawa tidak berhenti pada permohonan turunnya hujan. Pengawas PAI Siti Nur Hidayati menempatkan Salat Istisqa sebagai momentum memperkuat kesadaran ekologis.

“Salat Istisqa merupakan ikhtiar kita memohon kepada Sang Pemilik jagad raya agar menurunkan hujan. Namun lebih dari itu, kegiatan ini semestinya menjadi momentum membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga keseimbangan lingkungan,” kata Inung.

Kepala SMA Negeri Banyumas Erlin Retno Viyanti mengatakan dampak kemarau mulai dirasakan langsung warga sekolah. Debu yang beterbangan memicu keluhan flu, batuk, dan pilek pada sebagian siswa.

Keterbatasan air juga menyulitkan perawatan tanaman dan keberlangsungan ruang hijau sekolah yang selama ini menjadi bagian dari program Adiwiyata.

Menurut Erlin, hujan yang diharapkan bukan alasan untuk mengendurkan kepedulian terhadap lingkungan. Jika hujan kembali turun dan tanaman tumbuh subur, kondisi tersebut harus dirawat sebagai wujud syukur kepada Allah SWT.

“Kalau Allah SWT menurunkan hujan dan lingkungan kembali subur, kami berharap seluruh warga sekolah tetap menjaga dan merawatnya sebagai bentuk rasa syukur,” ujarnya.

Guru PAI Slamet mengatakan siswa mengikuti Salat Istisqa dengan antusias. Bersama tiga guru PAI lainnya, Afik Ahsanti, Fatkhatul Mar’ah, dan Kristiya Septian Putra, ia turut memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib.

10 02 11.06.44

Bagi sekolah, kemarau menjadi ruang belajar yang hidup. Persoalan air tidak lagi sekadar materi pelajaran, tetapi hadir dalam keseharian siswa—menyentuh kesehatan, kenyamanan belajar, perawatan tanaman, hingga keberlangsungan ekosistem sekolah.

Inung berharap pesan spiritual Salat Istisqa diterjemahkan dalam tindakan nyata menjaga bumi.

“Saya berharap Salat Istisqa bukan sekadar kegiatan memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Lebih jauh, ini dapat menjadi bagian dari ekoteologi yang mengedepankan cinta lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan spiritual manusia,” tegasnya.

Di lapangan sekolah itu, doa dan kesadaran bertemu. Hujan dimohonkan kepada Allah, tetapi menjaga bumi tetap menjadi tanggung jawab manusia. (Widhi/Inung/Djarmanto)

Penulis

Widhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *